• RSS
  • Twitter
  • Linkedin
Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, January 19, 2012

Siang yang Tak Secerah Kemarin

Created by: Tia & Ayu :)

siang yang tak secerah kemarin
aku masih menunggu di peron terakhir
hanya kursi usang ini yang setia temaniku
selain debu yang tergugu
dan tukang sapu yang sibuk dengan sapunya sendiri
aku sibuk dengan hatiku sendiri
sementara tukang koran yang mengipas dengan korannya

desing itu membuatku termangu, telah tiba keretamu
ku tunggu sebuah sosok yang selama ini tega membunuh rinduku
mengapa engkau tak kunjung datang, sayang?

lemas tubuhku seketika
saat perlahan engkau melangkah dengan senyum yang merekah
dan tawa yang renyah dengan....
gadismu?
semudah itukah kau melupakan aku?
kutatap gadismu yang lebih ayu
memang dia tak sebanding denganku

kuputar tubuhku, kulangkahkan kakiku pulang
sebelum engkau melihatku dan tangisku
lima langkah, kusadari harapanku telah musnah
hancur lebur berantakan tak tersisa
kenangan kita telah tiada harga
tak pantas lagi untuk kuingat

aku pulang, aku ingin pulang
harusnya aku sadar akan satu hal
kita tercipta untuk tak saling bersama
dan tak saling mengenal

dan di siang yang tak secerah kemarin
aku menyesal telah mengenal cinta...

Saturday, August 13, 2011

sebuah imagi....

Mega yang menjelma kelabu
Nyanyikan alunan desir angin sore
Menidurkan pemimpin langit di peraduannya
Menghapus jingga yang sedari tadi dipeluknya

Angin berbisik lirih kepucuk-pucuk lembayur
Sampaikan duka dari ujung selatan
Tertatih namun pasti ia berkata
Dia enggan pulang sekarang, katanya

Aku berucap sekeras aku berbisik
Untuk apa berita itu ia sampaikan?
Dalam diam aku berpikir dan….
Sejenak aku tersadar atas apa yang dikatakannya

Keinginanku. . .
Harapanku. . .
Bahwa dia kembali telah musnah
Seketika ragaku seolah hilang
Lutut tertekuk diatas butiran pasir
Mata tertunduk mengaduh
Tak bisa lagi kubedakan mana peluh dan mana air mata
Mengalir, menetes, berbaur jadi satu
Berhilir dibawah dagu

Tak kuberanikan diri ‘tuk menatap angin
Meski kutahu dia sudah tak menatapku
Tak kuberanikan diri untuk………
Untuk meyakinkan diri bahwa tak ada harapan lagi

Aku menantikannya. . .
Aku menginginkannya. . .
Kehadirannya meski tanpa seikat senyum
Kedatangannya meski tanpa sebongkah ingatan tentangku

Bodoh . . .
Akupun tak tahu kabarnya
Bagaimana aku berharap dia pulang?
Aku tak tahu dia dimana
Bagaimana aku bisa menantinya disini?
Hidupnya, kenangannya, semua tentangnya
Terlalu menjadi obsesiku
Hingga aku lupa diri
Akan siapa aku….. dimatanya